Entri Populer

Kamis, 13 Maret 2008

MEMBANGUN PERADABAN SEJAK DINI


Tulisan ini merupakan hasil pengalaman penulis ketika berkunjung ke Sekolah Peradaban di Cilegon - Banten, 25 Oktober 2007. Pernah dipublikasikan di majalah Kabesak Balai Diklat Kehutanan Kupang

Dalam mind frame kita selama ini, di sekolah adalah tempat anak-anak untuk belajar. Hanya belajar saja. Dalam artian seolah-olah tidak ada waktu untuk bercanda sebagai bentuk ekspresi diri. Tatapan tajam mata sang guru dan penggaris kayu sebagai alat yang ampuh untuk “mendisiplinkan” anak yang sejatinya dapat mengubur dalam-dalam semua ide kreatif mereka.

Namun tidak demikian dengan di sini, di Sekolah Peradaban ini. Anak-anak itu terlihat begitu ceria. Mereka bebas mengekspresikan dirinya. Tertawa, tersenyum, bercanda dan sedikit nakal layaknya anak-anak. Mereka benar-benar menjadi diri mereka sendiri. Tidak seperti kebanyakan anak-anak di sekolah lain yang pernah penulis lihat selama ini.

Bagi siswa di SD Sekolah Peradaban, sekolah merupakan rumah kedua. Mereka betah bersekolah di sini. Guru-guru yang hangat, murah senyum dan santun, ruang kelas yang “unik” dan lingkungan sekolah yang membaur dengan alam sekitar.

Tidak boleh ada lontaran kata-kata negatif sekecil apapun dari mulut sang guru. Tidak ada hukuman fisik atau mental yang mengerdilkan jiwa anak. Tidak boleh ada paksaan untuk mengejar suatu materi pelajaran yang memang si anak tidak/belum mampu menguasainya secara instan. Bebas. Kebebasan terarah yang mengantarkan anak untuk mengejar prestasinya sesuai dengan cara, potensi diri dan kemampuan otaknya masing-masing. Karena di sini, di sekolah ini, anak belajar sesuai cara otak belajar.

Memasuki halaman sekolah ini, kesan yang terlihat pertama adalah seperti memasuki saung besar atau rumah adat tradisional. Bangunan didesain begitu unik dan alami. Dinding, lantai, tiang-tiang dan tangga terbuat dari kayu dengan atap ilalang. Ruang kelas tidak memiliki dinding tertutup. Hanya ada pembatas seperti pagar, yang ditutupi tirai anyaman bambu untuk menghalangi masuknya sinar matahari berlebih atau tampiasan air hujan. Tidak ada penghalang yang membatasi pandangan anak untuk mengamati lingkungan sekitar. Benar-benar pandangan luas dan bebas.

Belajar sesuai cara otak belajar. Demikian bunyi moto yang dianut oleh sekolah ini. Memang sistem pendidikan di sekolah ini cukup unik untuk di Indonesia (seunik bangunannya). Mereka mencoba mengaplikasikan teori Multiple Intelligences (kecerdasan Jamak) yang digagas oleh Howard Gardner beberapa tahun lalu. Kecerdasan tersebut adalah : kecerdasan linguistik (bahasa), logis matematis, visual spasial, kinestetis, naturalis, intra personal, inter personal dan kecerdasan musikal.

Kurikulum yang digunakan mengikuti standar Diknas, tapi dikombinasikan dengan pengayaan dan praktek langsung. Bagi anak-anak yang menonjol di bidang musik misalnya, selain menyediakan laboratorium musik sebagai sarana menyalurkan bakat, pelajaran di kelas pun disampaikan dalam bentuk lagu atau permainan yang diiringi musik atau nyanyian. Sehingga mereka lebih cepat memahaminya. Bagi anak yang menonjol di bidang kinestetis (gerak), selain ada pelajaran khusus olah raga dan diberi kebebasan berekspresi gerak di kelas, sekolah juga menyediakan sarana outbound seperti monkey bar, line bridge, flying fox, spider web dan wall climbing. Didampingi instruktur tentunya. Fasilitas ini digunakan oleh seluruh anak, biasanya dalam satu bulan akan ada acara khusus outbound sebanyak dua sampai empat kali. Selain melatih anak berekspresi, juga melatih keberanian, jiwa kepemimpinan, kemandirian, keterampilan dan ketangkasan.

Walaupun anak dibimbing untuk mengembangkan potensinya yang paling menonjol, bukan berarti lalu mengabaikan potensi yang lainnya, karena pada dasarnya anak cerdas, dan memiliki ke-delapan kerdasan jamak ini. Hanya saja anak yang satu dengan anak yang lain kadarnya berbeda-beda untuk tiap jenis kecerdasannya.

Perdaban dibangun sejak dini. Di sini. Di sekolah ini salah satunya. Sekolah merupakan wadah untuk mencetak kader-kader calon pemimpin bangsa. Sekolah yang baik, tentunya memiliki visi yang baik. Dan sekolah dengan visi yang baik akan melahirkan kader yang baik pula, demikian sebaliknya. Saya teringat ketika masa-masa sekolah dulu. Dari SD sampai SMA bahkan di bangku kuliah sekalipun, dari begitu banyak guru dengan karakternya masing-masing, paling-paling hanya beberapa guru saja yang tetap melekat rasa simpati saya kepadanya. Biasanya guru yang tetap terkenang adalah guru yang lembut, kasih sayang dan memberi teladan bagi muridnya. Guru yang ”killer” ke laut aje, meminjam istilah anak gaul jaman sekarang. Tanpa maksud melupakan jasa mereka (guru yang ”killer”), tapi inilah gambaran nyata yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Masih banyak guru (bahkan orang tua) yang menggunakan kekerasan untuk “mendisiplinkan” anak. Mulai dari hukuman strap berdiri di kelas, dijemur, lari keliling lapangan, bahkan dijewer, dipukul rotan atau dicubit. Tidak ada manfaat yang dirasa bagi anak. Hanya ”disiplin sesaat”. Hanya menyisakan luka. Maka tidak aneh ketika dewasa, si anak menjadi ”liar”, garang dan emosional. Karena itu lah yang ia dapat sewaktu kecilnya.

Kondisi ini harus dirubah. Itu salah satu dari banyak hal yang memotivasi para perintis sekolah ini untuk mewujudkan insan yang beradab melalui jalur pendidikan. Sudah saatnya bangsa ini maju dan bangkit, masyarakatnya harus menjadi masyarakat intelektual yang menggunakan akal sehat dan hati nuraninya. Jika hari ini anak-anak itu mendapat pelajaran tentang kasih sayang, maka nanti mudah-mudahan dia akan tumbuh menjadi manusia atau pemimpin yang menyayangi sesama manusia atau makluk lainnya. Jika hari ini anak-anak diajarkan tentang mencintai alam, maka akan muncul manusia-manusia yang mampu menjadi khalifah (penjaga) bumi. Jika anak-anak hari ini diajarkan tentang nikmatnya membaca, maka akan lahirlah generasi-generasi bangsa yang gemar membaca dan berwawasan luas. Jika hari ini anak-anak diajarkan pelajaran berhitung dengan teknik yang sangat menyenangkan (melalui tepukan tangan, games, lukisan, dsb) maka akan lahir generasi yang menjadikan matematika sebagai pelajaran yang mudah, bukan sebagai pelajaran yang mengerikan seperti anggapan kita dulu.

Di sini peradaban itu dibangun. Jiwa kewirausahaan anak dipupuk sejak kecil. Mereka diajarkan menghargai bagaimana sulitnya orang tua mereka mencari uang. Tanpa ada maksud mengajarkan anak untuk jadi materialistis. Di sekolah mereka bisa menjual hasil karya mereka (lukisan atau souvenir) atau menjual kue-kue buatan mereka kepada siswa atau orang tua siswa yang lain pada event market day. Mereka diajarkan bagaimana memiliki keluarga adalah sebagai suatu nikmat yang sangat indah melalui event family day. Di ajang ini mereka bisa saling silaturahmi antar murid atau antar orang tua murid. Mereka juga belajar bagaimana nikmatnya memanen hasil kebun yang mereka tanam sendiri, kacang-kacangan, sayur mayur dan ternak lele. Mereka juga diajarkan bagaimana cara menghemat dan mengelola uang serta melatih kejujuran. Sekolah menyediakan Mini Bank. Setiap hari anak dapat menabung. Bagi siswa yang sudah agak besar (kelas 4) diberi giliran untuk ”magang” menjadi “teller” di Mini Bank tersebut.

Yang tidak kalah menariknya adalah tidak ada istilah ujian di sini. Ujian yang menjadi momok menakutkan bagi siapa saja yang mendengar diubah menjadi kata ”perayaan”. Selain itu teknik mengerjakanannya pun dirancang mengasyikkan. Anak-anak tidak mengerjkakan soal-soal di ruang kelas saja. Tapi juga mereka di bawa ke alam sekitar. Di sawah, kebun, tepi sungai, di bawah pohon atau kontak langsung dengan masyarakat, khususnya untuk meteri social science (ilmu social). Anak-anak benar-benar merayakan kemenangannya. Mereka telah sukses menaklukkan ketakutannya sendiri.

Sekolah model ini belum banyak dikembangkan, padahal sistemnya sudah sangat bagus. Mudah-mudahan di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi sekolah-sekolah seperti ini. Paling tidak sekolah yang mempunyai visi tidak kalah besar. Sekolah yang membangun peradaban.

2 komentar:

gyannara mengatakan...

Wah, ternyata ada ya sekolah model begini. potensi peserta didik bisa berkembang nih

doel al-baghasasi mengatakan...

iya, mudah2an generasi Indonesia setelah kita akan lebih baik lagi...